Kunjungi Account Twitter Saya @Tinafets Kesehatan: Januari 2013 BTS - Jungkook - Jeon Jeong-guk
BTS - Jungkook - Jeon Jeong-guk

Jumat, 18 Januari 2013

Harpan Kosong

Alina Nur Meilani anak pertama dari 2 bersaudara ini selalu mendapatkan nasib jelek dalam hal PACARAN.
Tetapi sekarang saat alin merasa hidupnya sangat hampa ,seorang lelaki bernama Reza Arveadi datang dan memberi warna dikehidupan alin walaupun reza datang dengan membawa rasa galau yang sedang dirasakannya.
Namun alin dengan senangnya mendengarkan semua keluh kesah dan kegalauan reza .
alin selalu memberi semangat kepada lelaki itu .
Lelaki yang baru ia kenal beberapa hari itu telah membuat hidupnya lebih berwarna.
saat itu alin merasa diberi harapan ,alin merasa nyaman dengan reza ,dimatanya reza adalah sosok lelaki yang baik.
Reza pun selalu memberi sinyal positif kepada alin , bahkan suatu saat ketika reza curhat
dan alin memberi semangat ,reza mengucapkan “makasih ya lin :)
“makasih untuk apa ?”
“makasih kamu udah ngasih semangat buat za ,sekarang za gaakan galau lagi kan udah ada kamu :)
Kata-kata yang terlontar lewat sms dari reza itu membuat alin bersemangat ,membuat alin merasa terbang ke awan :)
Akhirnya mereka merencanakan jalan-jalan ke tempat wisata di daerah ciwidey . Alin sangat bersemangat karena ia bisa bersama-sama dengan reza .
waktu demi waktu , jam demi jam mereka lewati dengan senyuman , candaan dan tawa mereka ditempat wisata tersebut.
“Rasanya ingin sekali untuk menghentikan waktu agar aku bisa terus bersama dengannya”ucap alin dalam hati.
tapi apa daya setelah hari menjelang sore merekapun bergegas kembali pulang .
saat diperjalanan hujan turun sangat deras .
“hujan neduh dulu aja ya” ucap reza
tanpa perlu jawaban alin reza langsung mencari tempat untuk berteduh. sambil menunggu hujan reda mereka mengobrol dan bercanda sampai akhirnya “Udah lumayan reda tuh , cari makan yuk laper nih ” ucap reza yang memang sudah kelaparan sejak tadi (hahaha)
“iya hayu atuh ,tuh disana ada nasi goreng” jawab alin
“ngga nasi goreng ah ,pengen pecel lele za mah ,cari pecel lele aja ya hehe”
“yaa ayolah apapun jadi aku mah :)
sampailah mereka ditempat makan ,reza yang kelaparan dari tadi langsung memesan makanan “bu pecel lelenya 2 yang kering ya”
alin hanya duduk dan tersenyum melihat reza .Dan makananpun dataaang ,mereka langsung menyantap pecel lele yang baru saja digoreng tersebut ditemani dengan cuaca dingin karena hujan yang turun sedari tadi.
Setelah selesai makan mereka bayar kemudian langsung tancap gas pulang karena waktu sudah menunjukkan jam 18.30 wib.
sampailah alin dirumahnya ,dan reza langsung pamit pulang.
Sejak hari itu mereka masih smsan seperti biasa ,namun makin kesini intensitas smsan mereka pun berkurang ,alin sempat kebingungan tapi alin berusaha untuk bersikap biasa.
Sampai akhirnya ketika alin ‘kepo’ lihat fb reza disana alin melihat ada status terbaru dari reza yang membuat alin berpikir bahwa reza balikan lagi dengan mantannya .
sedih ,bingung, hancur, galaulah intinya.
alin langsung mengirim sms ke reza namun tidak dibalas oleh reza, alinpun sadar mungkin pikirannya tentang reza itu benar ,tapi alin masih penasaran.
Dan keesokan harinya alin membuka fb dan ‘kepo’ lagi, ternyata benar !!
Ternyata lelaki yang memberi harapan kepadanya itu balikan lagi dengan mantannya. makin hancur ,sedih dan semakin galaulah alin.
“mengapa nasib mempermainkanku? mengapa dia dibiarkan datang kepadaku dan memberi warna dihidupku hanya sesaat? mengapa sekarang dia pergi dengannya? mengapa dia pergi dengan orang yang sudah pernah memilikinya? apakah tidak ada kesempatan untuk aku memilikinya?
mengapa dia menyentuh hidupku kalau hanya untuk menyakitiku?” semua pertanyaan itu berlari-lari dipikiran alin.
Alin benar-benar kecewa karena ia merasa telah diberi harapan kosong oleh reza.
Alin menangis dan merenung semalaman sampai ia ketiduran.
Dan keesokan harinya alin bangun dengan hati yang masih hancur dan dengan matanya yang sembab. Namun alin berusaha tegar ,alin berusaha ikhlas dengan kenyataan ini. mungkin memang reza masih sayang ke mantannya,jadi mau segimanapun alin tidak akan bisa memaksakan kehendaknya.
dan 1 hal yang membuat alin kuat “Allah SWT pasti akan menggantinya dengan seseorang yang lebih baik ,Alin percaya itu !! :)

BAHAGIA ITU

Pagi ini aku baru bisa menghapus semua inbox SMS yang telah lama tinggal di HP ku. Dengan disaksikan oleh sahabatku aku mulai menghapusnya. Lalu aku berkata bahwa aku sudah move on dari mantanku. Kata dia aku begitu hebat. Hebat ? Entahlah aku tak tahu apa memang benar-benar aku sudah dapat move on ?
Apa yang telah membuatku dapat berkata demikian ? Yaa, aku memang sangat menyayangimu, bahkan hingga satu tahun aku bertahan tuk menjaga hati ini untukmu. Sampai kau telah memiliki kekasih sebanyak dua kali selama ini. Saat pengganti pertama setelah aku, entah mengapa aku merasa kau tak benar-benar mencintainya. Yang aku rasa kau justru semakin menyayangiku, kau justru sering mengirim pesan untukku dan menyempatkan untuk menjemput dan mengantar ku sepulang sekolah. Dan ingatkah kau hari senin itu ? Saat kita datang di acara silaturahmi di SMP kita, saat akan pulang kau memanggilku dengan isyarat tanganmu. Aku pun menghampirimu. Dengan senyum kau pamit kepadaku,
“Aku pulang dulu yah ? Mau ikut ?”
Tentu saja kujawab, “Mau dong, di rumah sepi nih.. heheh”
“haha, mau ikut ? Sini oh naik disini”, sambil menunjuk bagian depan motor.
“masa di situ sih ? hehe. Ikut yah aku ikut”
“ntar ajah deh, di rumah ada embah”, jawabmu dengan senyum.
Modusku untuk menahanmu, akhirnya aku bercerita tentang kekasihmu saat ini.
“oya Dhar, katanya Rama. Wiwi tadi ngambek sambil nangis waktu ke kelas Dharma.
“emangnya kenapa Ki?”
“Kiki ngga tau katanya sih dy nyesel udah buka FB soalnya ada status nya Kiki waktu Dharma main ke rumah Kiki. Ngga papa yah Dhar, masa gitu ajah marah. Kiki kan cuma bikin status kaya gitu doang”.
“oh .. iyalah ngga papa Ki, Cuma status ajah. Belum jadi istri Dharma kan, belum kawin juga”.
“haha, iya yah Dhar”
“iya yang penting jangan cemburuan ajah Ki”.
“iya yah ”
“hehe yaudah Ki, Dharma pulang dulu yah. Udah siang nih”
“iya Dharma ati-ati yah “
“iya Kiki ”
Akhirnya kau pun pulang dengan motor Megapromu. Dan aku pulang naik angkotan umum bersama sahabatmu juga waktu dulu, Lukman. Saat di angkot, aku menerima SMS mu.
“udah pulang ade?
“belum mas, ini masih di angkot”
“ati-ati yah ade sayang “
“hehe iyah mas sayang. Mas udah solat ? “
“iya dee, belum”
“solat dulu sana mas”
“yaudah, mas solat dulu yah ade sayang ”
“iya mas sayang “
Saat sore sedikit mendung. Dan mulai gerimis, aku sedang menonton acara di TV. HP ku tinggal di kamar. Tanpa kusadari ternyata Dharma mengirim SMS untukku,
“ade?”
“dalem mas ?”
“yah ? baru bales. Ntar malem habis belajar SMS an mau de ?”
“hehe maaf mas tadi HP nya ade tinggal. Ya maulah ”
“yaudah ntar Insya Allah mas SMS ade lagi yah ”
“iya mas sayang, ade tunggu ko ”
Saat malam aku menunggu SMS mu tak juga masuk. Hingga pukul 9 kau tak juga SMS aku. Akhirnya aku pun yang memulai mengirim SMS kepadamu,
“mas ?”
Kau tidak menjawab. Akhirnya aku SMS lagi, “udah bobo mas?”
Akhirnya kau menjawab, “masih belajar de”
“oh yaudah”
Jam menunjukkan pukul 22.00, aku mulai mengantuk dan terpejamlah mata ini. Namun tiba-tiba HP ku bergetar dan ternyata SMS darimu.
“ade?”
Aku pun langsung bangun dan menjawab pesanmu, “dalem mas”
“udah sayank “
“ sukur deh. Trus mas ngga bobo?”
“nanti de, belum ngantuk”
“oh belum ngntuk mas sh mas ngga SMS an sama Nanah ?”
“mas udah ngga sama Nanah de”
“wah sih kenapa? Putus kapan?
“tadi siang de ..”
Dan malam itu aku sungguh senang, rasanya kau lebih memilih ku. Dan seperti biasa hari-hari hanya tawa dan bahagia yang ada diantara kita berdua.
Saat malam Kamis, kau bercerita padaku bahwa kau sedang ada masalah. Aku memintamu untuk ceritakan semuanya padaku. Tapi kau menjawab,
“besok pulang sekolah mas crita deh .. “
Dan aku sadar, sebenarnya kau ingin bertemu denganku. Aku pun meng IYA kan permintaan mu itu.
Akhirnya saat hari Kamis kau benar menjemputku dan mengantarku pulang.
Ternyata masalah yang kau ceritakan itu tentang keluargamu, yang menurutku itu tidak terlalu rumit dan berat. Semakin terlihat jelas, alasanmu menjemputku ya karena kau ingin bertemu denganku. Saat tiba di rumah, kau pamit dengan senyuman. Dan seperti biasa, kau mengulurkan tanganmu untuk menyalamiku.
“pulang dulu yah ”
“iyah Dharma ati-ati yah”
“iyah Kiki”
“daaaaaah Dharma”
………
Tanpa aku ketahui dan aku sadari ternyata hari itu adalah hari terakhir kau dan aku dalam kebahagiaan, dalam jarak yang amat dekat. Dalam suasana penuh sayang. Ketika hari Minggu aku mendengar kabar dari temanku, bahwa kau telah jadian lagi waktu hari Sabtu. Betapa hancurnya aku mendengar itu semua. Waktu berjalan amat cepat, sampai 2 bulan kau bertahan dengannya menjalin cinta. Sedang aku disini apa. Aku menjalani hidupku sendiri.
Ketika di SMA ku ada pelatihan OSN untuk berbagai bidang aku tertarik untuk mengikuti di bidang ASTRONOMI. Yaa, itulah impianku. Namun, saat malam hari kau SMS aku tanpa panggilan sayang yang biasa kita ucapkan,
“de, kapan mau ajarin matematika?”
Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengikuti pelatihan OSN tersebut, ini hanya untukmu. Aku tidak ingin kehilangan waktuku bersamamu. Setelah sekian lama ternyata pengorbananku ini tak ada artinya sama sekali untukmu. Saat aku buka profil akun FB mu, tertulislah status yang menyatakan bahwa kau sudah mengikuti les dengan teman-teman SMA mu. Lalu apa artinya yang telah aku lakukan selama ini ?
Jika ku tahu akan seperti ini jadinya, lebih baik aku mengikuti pelatihan OSN waktu itu. Jika dipikir lebih dalam, sesungguhnya kau telah menghancurkan mimpiku, cita-citaku, impianku. Akhirnya kini ku memutuskan untuk pergi darimu, pergi dari segala rasa yang telah menyiksaku. Kau yang tak pernah menyadari besarnya cinta ini untukmu. Kini ku selalu memotivasi diri sendiri,
“bahagia itu ketika aku tak melihatmu
Bahagia itu ketika aku tak mendengarmu
Bahagia itu ketika aku tak mengingatmu
Bahagia itu ketika aku tak bersamamu
Bahagia itu ketika aku tak merasakanmu
Dan bahagia itu ketika aku terbiasa hidup sendiri tanpa dirimu”
Aku memang ingin melihat kau selalu bahagia, tapi aku juga ingin sekali melihatmu hancur, menderita, merana, merasakan sakit yang lebih dari yang aku rasakan selama ini !
Selamat tinggal untuk kau, jangan pernah berharap jika aku kan datang kembali menemani, menenangkan hatimu.

Dilema Sahabat Dan Cinta Pertama



"Apa kau yakin ingin meninggalkan London ?"tanya gadis cantik itu, rambut lurusnya diikat dua, mata hijaunya berbinar-binar, kulit putihnya sedikit terlihat kemerah-merahan.
"Aku yakin, aku akan pergi ke Jepang, tempat asalku dilahirkan"jawab gadis Jepang itu yakin, gadis itu berambut panjang gelombong coklat muda diikat satu, mata birunya sedikit berbinar.
"Baiklah Megumi, aku harap lain kali kau akan mampir ke London"kata gadis itu sedikit sedih.
"Ya Emily, aku pasti akan mampir kembali dan menghampirimu !"kata Megumi meyakinkan.
"Selamat tinggal Megumi"kata Emily sambil melambaikan tangannya, Megumi pun menaiki pesawat yang akan membawanya ke negeri Sakura.Selama diperjalanan Megumi hanya meneteskan air mata, mengingat sahabat terbaiknya selalu menunggu kehadirannya.
"Emily, aku janji akan kembali"kata Megumi dalam hati sambil meneteskan air mata.

Sesampai di Jepang, Megumi pun mencari kedua orang tuanya, gadis berumur 16 tahun itu mencari kedua orang tuanya, Megumi pun menemukan mereka, kedua orang tuanya sekarang sudah terlihat tua, setelah selama 4 tahun tidak bertemu orang tuanya, Megumi bersekolah di London bersama Tante dan Omnya.Megumi pun memeluk orang tuanya.
"Mama, Papa.Megumi rindu pada kalian"kata Megumi meneteskan air mata rindu.
"Kami juga merindukanmu nak"kata Mama yang juga menitikkan air mata haru.Megumi pun pulang ke rumah yang selalu ia rindukan.Di rumah sudah ada Nana, adik tersayangnya yang masih berusia 10 tahun, Megumi pun memeluk adik tersayangnya.
"Shimai, Nana rindu sekali sama Shimai"kata Nana senang melihat kakaknya sudah pulang.
"Shimai juga rindu padamu Nana"kata Megumi.Megumi pun menuju kamar tidurnya, tidak ada perubahan dengan kamarnya saat berusia 12 tahun.Dinding berwarna kuning itu masih dihiasi beberapa lukisan karya Megumi, dan sebuah jam dinding hijau kesayangan Megumi, bed cover hijau polkadot putih itu masih dihiasi sebuah boneka beruang kesayangan Megumi saat kecil, lemari kayu, meja rias putih, dan sebuah meja berukuran sdang masih terletak rapi di kamar itu, Megumi pun merebahkan diri di bed cover itu sambil memeluk boneka beruangnya, tiba-tiba handphonenya berdering, tertera sebuah pesan telah berada di kontak handphone tersebut, Megumi pun membaca pesan itu,
" Megumi bagaimana perjalananmu ? Apakah berjalan lancar ? Aku harap begitu.Adikku, Eiji menangis terus karena tau kau pergi jauh dari London.Aku masih menunggumu sahabatku..."
Megumi pun membalas pesan itu,
" Perjalananku berjalan lancar, oh iya titipkan salamku untuk keluargamu terutama Eiji.Aku rindu pada adik kecilmu itu, aku rindu tawa Eiji.Aku pasti akan kembali ke London, tunggu aku ya"
Megumi pun mengirim pesan itu.Megumi pun mulai menutup matanya.
Sinar mentari membangunkan gadis cantik yang sedang terlelap lelah setelah menempuh perjalanan jauh, Megumi pun bergegas membersihkan diri, tidak begitu lama Megumi pun selsai berbersih diri, ia pun duduk di meja riasnya, Megumi mengoleskan bedak, dan blush di wajah putihnya, sedikit lipsgloss teroles rapi di bibirnya.Rambut gelombangnya digulung dua.Selesai berdandan, Megumi pun menuruni tangga dan menuju ruang makan, di meja makan tersebut sudah tersedia semangkuk mie khas Jepang, dan teh hijau khusus untuk Megumi.Megumi pun menyantap sarapan tersebut,
"Shimai kapan mulai sekolah kembali ?"tanya Nana dengan suara imutnya.Megumi pun menelan mienya,
"Mungkin menunggu sampai sekolah Shimai membuka peserta didik baru"jawab Megumi.
"Hm..Mama..Mama, Shimai akan bersekolah dimana ?"tanya Nana lugu kepada Mama.
"Megumi akan bersekolah di High School Saiensu"jawab Mama kepada putri keduanya.Megumi pun selesai memakan sarapannya, ia pun menuju kamarnya,
"Hm..Mungkin aku harus berjalan-jalan keluar rumah untuk menghirp udara segar"kata Megumi, lalu mengambil jaket putihnya, lalu turun menuju pintu.
"Megumi, kau mau kemana ?"tanya Mama.
"Aku mau menghirup udara segar Ma"jawab Megumi sambil membuka gagang pintu.
"Hati-hati ya nak !"kata Mama.Megumi pun mulai berjalan-jalan, ia pun duduk di bangku Taman
Bunga Sakura.Tiba-tiba ada seseorang yang tak sengaja menumpakkan air mineralnya dijaket
Megumi.
"Ah..Maaf"kata seorang laki-laki kepada Megumi, laki-laki itu tampan, rambutnya berwarna coklat muda, mata hitamnya terlihat ada penyesalan.
"Tak apa"jawab Megumi, pipi Megumi bersemu merah, sepertinya ia menemukan cinta pertamanya.
"Siapa namamu ?"tanya laki-laki itu.
"Namaku Megumi Natsuko, kamu dapat memanggilku Megumi"jawab Megumi, pipinya masih
bersemu meah.
"Namaku Katashi Masuo, kamu dapat memanggilku Katashi"kata Katashi ramah.
"Kamu masih bersekolah ? Lalu sekolahmu dimana ?"tanya Megumi memberanikan diri.
"Aku masih sekolah di High School Saiensu"jawab Katashi.
"Aku juga akan masuk HSS loh"kata Megumi.
"Yang benar ? Kau akan jadi murid baru ya di kelas 10, berarti kau harus memanggilku Ani dong
hahahaha"canda Katashi.
"Enak saja, aku akan masuk kelas 11"jawab Megumi.
"Semoga kau sekelas denganku, eh sudah dulu ya.Aku ada janji dengan sahabatku, sampai bertemu di HSS"kata Katashi sambil melangkah pergi.Megumi juga bergegas pulang, sesampai di rumah, Nana menyambut Shimainya.Megumi pun menuju kamarnya,
"Aku tak sabar menunggu saat aku masuk HSS"kata Megumi dalam hati, Megumi tidur lelap di
bed covernya...
Cuaca yang tak begitu mendukung membuatku tambah tidak semangat menjalani aktifitas karena ku kembali mengingat tentang kamu yang dulu mewarnai hidupku
Tiga kata satu arti itu yang sllu ku tanyakn kepada dia dan dia sllu menjawabnya I LOVE YOU membuatku benar benar terbungkam, I LOVE YOU TOO lidahku yang mulai kelu mencoba mengatakan apa yang sllu aku rasakan ^_^
Dia trsenyum tampak binar kebahagian dimatanya. Tangannya semakin erat menggenggam tanganku. Sejak saat itu hubungan kami semakin membaik. Dia sering mengajakku jalan-jalan, makan, dll senang rasanya, karena selama beberapa bulan ini kami berhasil menghalau segala macam godaan. Namun, kebahagian itu hanya sementara. Ntahlah hantu apa yang merasuki hati dia saat itu
Perasaan bingung dan senang kini brcampur aduk karena sudah tidak ada lagi ucapan “TIGA KATA SATU ARTI”
Aku terhenyak, Kata katanya kali ini membuat hatiku seperti triris pisau yang sangat tajam. Perih. Saat itu aku merasakan sesuatu membasahi pipiku dan tangan lembut mencoba menghapusnya, namun aku segera menjauh dari sosok itu. Aku tak menyangka dia akan berkata seperti itu. namun, lagi lagi air mata mengahalangi niatku untuk membalas SMSnya. Aku segera pergi dan meninggalkan Handphoneku di kursi dan masuk ke kamar untuk menyendiri
‘Maaf” itulah pesan singkat yg dia kirim pada saat itu. Sejak saat itu, aku tak pernah brhubungan lagi dengan dia. Tak pernah smsan lagi, chattingan, dll.
Betul juga kata orang melupakan seseorang yg memang kita cintai itu lebih sulit daripada mencintai seseorang yg tak kita cintai.
Ku akui dulu aku slalu memujanya, merindukannya, & slalu ingin bersamanya. tapi smua tlah terungkap, dia bukanlah pemilik cinta sang pujaan hati melainkan dialah pemilik racun hati yg mematikan.
Di sini aku hanya bisa brdoa untuknya :
Ya tolong jaga dia, jangan jatuhkan karma terhadap dirinya tetapi ketuklah pintu hatinya & sampaikan padanya I still Hope, and Love him .
Cuaca yang tak begitu mendukung membuatku tambah tidak semangat menjalani aktifitas karena ku kembali mengingat tentang kamu yang dulu mewarnai hidupku
Tiga kata satu arti itu yang sllu ku tanyakn kepada dia dan dia sllu menjawabnya I LOVE YOU membuatku benar benar terbungkam, I LOVE YOU TOO lidahku yang mulai kelu mencoba mengatakan apa yang sllu aku rasakan ^_^
Dia trsenyum tampak binar kebahagian dimatanya. Tangannya semakin erat menggenggam tanganku. Sejak saat itu hubungan kami semakin membaik. Dia sering mengajakku jalan-jalan, makan, dll senang rasanya, karena selama beberapa bulan ini kami berhasil menghalau segala macam godaan. Namun, kebahagian itu hanya sementara. Ntahlah hantu apa yang merasuki hati dia saat itu
Perasaan bingung dan senang kini brcampur aduk karena sudah tidak ada lagi ucapan “TIGA KATA SATU ARTI”
Aku terhenyak, Kata katanya kali ini membuat hatiku seperti triris pisau yang sangat tajam. Perih. Saat itu aku merasakan sesuatu membasahi pipiku dan tangan lembut mencoba menghapusnya, namun aku segera menjauh dari sosok itu. Aku tak menyangka dia akan berkata seperti itu. namun, lagi lagi air mata mengahalangi niatku untuk membalas SMSnya. Aku segera pergi dan meninggalkan Handphoneku di kursi dan masuk ke kamar untuk menyendiri
‘Maaf” itulah pesan singkat yg dia kirim pada saat itu. Sejak saat itu, aku tak pernah brhubungan lagi dengan dia. Tak pernah smsan lagi, chattingan, dll.
Betul juga kata orang melupakan seseorang yg memang kita cintai itu lebih sulit daripada mencintai seseorang yg tak kita cintai.
Ku akui dulu aku slalu memujanya, merindukannya, & slalu ingin bersamanya. tapi smua tlah terungkap, dia bukanlah pemilik cinta sang pujaan hati melainkan dialah pemilik racun hati yg mematikan.
Di sini aku hanya bisa brdoa untuknya :
Ya tolong jaga dia, jangan jatuhkan karma terhadap dirinya tetapi ketuklah pintu hatinya & sampaikan padanya I still Hope, and Love him .

TANPA AKU

“Aku rindu saat-saat itu. Saat semuanya masih baik-baik saja, tentunya tanpa kehadiran sosok lain yang kini singgah di hatinya.”
Malam demi malam yang kulalui rasanya semakin sunyi saja. Tanpa ocehanmu, tanpa omelanmu, tanpa candaanmu, dan tanpa kehadiranmu. Mungkin inilah jawaban dari semua tanda tanya yang melekat di pikiranku. Mengapa kamu jarang mengabariku lagi? Mengapa kamu seperti menjaga jarak denganku? Mengapa kamu berbeda? Mengapa kamu tak peduli lagi denganku? Ahh, aku mulai kacau dengan pertanyaan-pertanyaan itu.
Kejadian sore tadi sudah cukup menjawab semua pertanyaanku tentang perubahan sikapmu. Sosok lain. Yaa! Sosok lain yang kini mulai menggeser posisiku di hatimu. Apa yang salah? Apa yang membuatmu berpaling lagi padanya? Apa yang harus kulakukan agar kamu kembali?
Pertanyaan lain pun mulai mengacaukan pikiranku. Satu pertanyaan terjawab, tapi pertanyaan lain pun muncul lagi. Aku lelah denganmu, dengan hubungan ini, dan aku lelah memahami sikap-sikapmu yang sama sekali bukan kamu yang kukenal. Entahlah, otakku sudah sangat kacau.
“Sayaang…” panggilku sok mesra padamu.
“Ada apa?” sahutmu tanpa menoleh sedikit pun ke arahku. Matamu masih tertuju pada laptop yang masih menyala di meja depanmu. Sedangkan jari-jarimu masih menari-nari liar diatas keyboard. Sesekali kamu menyunggingkan senyummu pada layar. Entah sedang apa dirimu, aku tak berani bertanya.
“Kamu kenapa? Cuek banget sama aku.” Jawabku sambil mencari pusat perhatian lain agar aku tak begitu menatapmu.
“Tidak apa-apa, perasaanmu saja, Key..” Aku mencoba melirik diam-diam ke arahmu. Kamu masih fokus pada kesibukanmu sedari tadi, tak memperdulikanku sama sekali. Dan lebih parahnya kamu memanggilku apa tadi? Key? Hahahaa, aku sama sekali tak percaya. Ya memang benar namaku Keyna. Keyna Larissa.
Tapi aneh aja, biasanya kamu memanggilku Honaa, panggilan sayangmu untukku. Mungkin kamu memang sudah tidak sayang lagi padaku. Yahh, mungkin.. Aku segera beranjak dari sofa yang sedari tadi menopang tubuhku.
Mungkin dia sama sepertiku, lelah menahan semua beban ini, dan kami sama-sama mencoba bertahan. Kulangkahkan kaki meninggalkanmu yang masih sibuk dengan urusanmu yang entah apa itu. Aku berjalan pelan dan berharap kamu akan mengejarku dan meminta maaf padaku. Tapi ternyata hingga aku sampai di depan pintu keluar pun, tetap saja tidak ada reaksi apa-apa darimu. Kecewa? Ya pastilah. Padahal baru saja kau meneleponku agar datang di cafe depan kampus untuk menemanimu makan siang. Tapi apa yang kudapat? Peduli padaku saja tidak.
Bahkan aku pun tidak jadi makan siang denganmu. Kulihat kamu masih asyik dengan laptopmu, tak tahu apa yang sedang kau lakukan. Terserah, aku sangat kecewa.
Sore ini hujan mengguyur kota kecil tempatku sejak lahir. Aku hanya termenung menatap jendela kamarku yang mulai basah. Kulihat titikan embun menempel disana. Aku baru sadar sedari tadi aku tengah memangku netbook putih kesayanganku. Berkali-kali aku menaik-turunkan scrollbar di profilmu. Aku sendiri juga tak tahu apa yang kulihat. Mencoba stalk status-status kamu? Hmm kurasa tidak. Kulihat terakhir kali kamu meng-update adalah berminggu-minggu yang lalu. Dan tulisan-tulisanmu juga tidak ada yang menarik perhatianku. Semuanya tentang bola, dan aku sama sekali tak mengerti. Entah kenapa tiba-tiba aku tertarik untuk membuka account facebok-mu. Yahh semenjak awal jadian kita memang bertukar password, kamu yang memintanya. Aku sendiri tak mengerti apa gunanya. Mungkin agar kita saling percaya?? Hahaa, aku selalu percaya padamu kok.
Aku segera mengetikkan email dan passwordmu, mulai menelusuri setiap kata yang dilewati oleh kedua bola mataku. Lebih tepatnya aku mulai menelusuri masa lalumu, membaca pesan dinding yang entah kapan datangnya. Aku tersenyum-senyum sendiri melihat awal perkenalan kita. Ya, kita memang berkenalan lewat dunia maya.
Sangat aneh, saling kenal di dunia maya tetapi bisa bertahan dengan status pacar, sampai sekarang. Jari-jariku mulai jahil, aku membuka pesan masuk fb-mu. Aku tak merasakan apapun ketika membaca setiap pesan yang masuk untukmu. Tetapi satu nama mulai mengusikku. Kubaca percakapan itu tanpa terlewat satu pun. Awalnya mungkin hanya sekedar bertanya kabar. Hatiku mulai berdebar. Apalagi saat namaku mulai disebut-sebut.
Arina Putri : Bagaimana dengan pacarmu?? Kurasa kalian sangat cocok.. :) )
Theo Nugraha : Maksudmu Keyna?
Arina Putri : Ya, tentu saja. Kalian bertahan cukup lama, bahkan melebihi kita :O
Theo Nugraha : Sudahlah rin, aku tak pernah cinta dia. Kamu tau sendiri kan? Aku terpaksa jadian dengannya setelah kita putus :(
Arina Putri : Hahaa benaarr, saat itu aku memang bodoh pernah meninggalkanmu..
Theo Nugraha : Rin?? Boleh aku jujur?
Arina Putri : Tentang apa?
Theo Nugraha : Tentang kita.
Arina Putri : Kita??
Theo Nugraha : Ya, aku tak pernah bisa melupakanmu.
Arina Putri : Benarkah??
Theo Nugraha : Ya benar, aku masih menginginkanmu.
Arina Putri : Perasaanku juga tak pernah berubah.
Theo Nugraha : Kamu serius rin?
Arina Putri : Tentu :) tapi bagaimana dengan Keyna?
Theo Nugraha : Tenang saja, aku akan mengakhiri hubunganku dengannya, secepatnya :)
Arina Putri : Kamu yakin??
Theo Nugraha : Ya, aku tak bisa membohongi perasaanku :) sepertinya aku mencintaimu lagi..
Arina Putri : Makasih, aku sayang kamu The.. :)
Butiran kristal bening mulai menjelajahi mataku lalu mengalir melewati garis bibir hingga leherku.
Aku menangis. Ya, menangisi diriku. Aku tak percaya dengan apa yang kamu perbuat padaku. Kamu ingin meninggalkanku? Setelah sekian banyak hari yang kita lalui? Menyisakan beribu-ribu kenangan. Ya, semua masih membekas, bersama luka yang selama ini kau beri padaku. Dan aku baru sadar, aku menjadi tempat pelarianmu atas Arina.
Sunyi, sepi, dan tenang. Yah itulah kenapa aku suka berada di tempat ini. Ia selalu menjadi saksi atas semua hal yang terjadi padaku. Disaat sedih, gundah, dan tak tahu jalan keluar masalah-masalahku, aku selalu ke tempat ini. Desiran ombak yang bergemuruh tak pernah menggangguku, mereka berlarian kesana kemari. Kadang ke tepi, kadang ke tengah. Persis seperti kamu, kadang putih, kadang hitam. Abu-abu dan terlihat semu di mataku. Pantai! Kini aku terduduk di atas pasir putih yang tak begitu halus. Sesekali gulungan ombak menyambar tempatku termangu.
Mulutku terkunci, tanpa suara. Tapi jari-jari mungilku menari-nari di pasir yang lembab itu. Setelah jariku selesai bekerja, gulungan ombak itu datang dan merusaknya. Aku sangat kesal dengan ombak yang menyapu hasil tanganku itu. Aku mulai berpindah ke tempat yang lebih tepi. Jari-jariku mulai menari lagi.
Aku tersenyum senang saat melihat hasil tanganku dapat kunikmati beberapa saat. Tapi, ah gulungan ombak nakal itu datang lagi. Menghancurkan semua yang kubuat. Berkali-kali aku memindahkan tubuhku ke tempat aman yang tak dilalui ombak nakal itu. Dan mulai kutulis lagi namamu diatas pasir yang basah, tapi hasilnya sama saja. Ombak-ombak kecil yang nakal itu selalu menghapusnya. Aku berlari mengejar gulungan ombak yang mulai diseret induknya.
“Dasar ombak jahat!!” Aku berteriak pada ombak itu. Berusaha memakinya agar ia mengembalikan namamu disana. Ah, aku sudah sangat lelah. Aku lelah akan pertahananku selama ini. Ya, aku sudah terlalu lama bertahan dalam kondisi seperti ini. Mungkin kalian pikir aku berlebihan. Tapi memang seperti inilah keadaanku. Sudah terlalu lama aku berpura-pura di depanmu. Selama ini aku tak pernah bertanya padamu tentang apa yang kulihat dua minggu yang lalu. Aku masih berusaha untuk biasa saja, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sikapmu padaku pun makin menjadi. Aku sadar kamu selalu berusaha membuatku membencimu. Aku juga sadar bahwa kamu sangat ingin meninggalkanku, demi Arina tentunya. Aku tak tahu, apa yang berkecamuk di hatiku saat ini. Mungkin inikah namanya galau? Yang selalu dibilang anak-anak remaja masa kini. Aku pun juga tak tahu apa yang membuatku galau. Apakah yang harus kupilih?? Bertahan atau menyerah??!! Ya, sekarang aku tahu jawabannya. Entah apakah aku masih sanggup untuk menjalani pilihanku ini.
Aku sudah lelah berpura-pura. Aku sakit menahan beban yang ada di hatiku. Aku sudah sangat lelah dengan pertahanan yang kubuat selama ini. Kupikir inilah akhir kita.
Terima kasih untuk semuanya, Theo. Semoga kamu bahagia. Dengannya… :)
-Keyna-
Kulihat senyum tipis mulai menghias wajahmu. Ya, aku memang telah mengirim pesan singkat di pintu lokermu. Sepertinya kamu sudah lega dengan keputusanku. Tak kulihat gurat penyesalan di wajahmu. Yang kulihat hanyalah seorang Theo dengan muka segar dan berseri-seri. Bahkan kamu tak pernah seceria itu saat bersamaku.
Se-menderita itukah kamu saat bersamaku?? Sekarang akulah yang merasa tak enak. Aku merasa bersalah telah merenggut kebahagiaanmu selama satu tahun. Satu tahun bukan waktu yang singkat kan?? Entahlah.. segera aku membalikkan badanku dan segera pergi meninggalkan sosokmu yang telah menemaniku setahun ini. Jujur aku sangat mencintaimu. Tapi lihatlah… kamu lebih bahagia tanpa aku!
“Mencintai tak harus memiliki. Kita tidak bisa memastikan apakah ia akan bahagia bersama kita. Seperti kita bahagia saat bersamanya?? Yakinlah, kebahagiaan sejatimu masih menunggu disana :) ikhlaskan dia… biarkan dia bahagia… kamu akan menjadi orang yang lebih bahagia!”